Prosedur Penanganan Senyawa Kimia B3 dan Limbah Kimia B3

Senyawa kimia B3 dan limbah kimia B3 sebaiknya disusun berdasarkan nama abjad. Senyawa kimia B3 dan limbah kimia B3 yang telah mempunyai identitas kemudian dicantumkan sifat – sifat wujud bahan kimia, zat padat, zat cair dan gas. Sifat – sifat bahan mudah terbakar, bahan mudah meledak, bahan mudah korosif, bahan sangat toksik, bahan tak mudah terbakar dan seterusnya. Bahan kimia cair dibedakan menjadi bahan mudah terbakar dan bahan dapat dibakar. Bahan kimia padat, cair, dan gas dapat terbakar disebabkan oleh perbedaan titik didih (boiling point) dan titik nyala (flash point).

Senyawa kimia B3 dan dan limbah kimia B3 cair tidak larut dalam air, yang mempunyai titik nyala di bawah 37,8 0C tidak larut dalam air, maka untuk memadamkan kebakaran tidak boleh digunakan air dan sebaiknya digunakan pemadam kebakaran pola kabut (fog), yaitu bahan kimia kering, CO2, busa. Titik nyala (flash point) adalah suhu terendah dengan uap bahan kimia dinyalakan. Konsentrasi uap bahan kimia terendah dibakar disebut Low Flamable Limit (LFL). Titik bakar (ignition point) adalah suhu bahan kimia terbakar dengan sendirinya.

Senyawa kimia B3 dan limbah kimia B3 larut dalam air dengan titik nyala rendah, maka pengenceran senyawa kimia B3 dan limbah kimia B3 dengan air. Jika terjadi kebakaran senyawa kimia B3 dan limbah kimia B3 dengan titik nyala di bawah 37,8 0C maka upaya pertama adalah memadamkan dengan bahan kimia kering, CO2, dan busa alkohol.

Senyawa kimia B3 dan limbah kimia B3 cair mudah terbakar, dapat terbakar, dan tidak dapat terbakar. Jika senyawa kimia cair mudah terbakar dan dapat terbakar (combustible) dengan titik nyala antara 37,8 0C sampai 100 0C maka jika terjadi kebakaran dapat dipadamkan dengan menggunakan air. Jika bahan kimia cair dibakar dengan titik nyala lebih 100 0C dipadamkan dengan menggunakan busa atau buih, bahan kimia kering, dan CO2, namun dilakukan sangat hati – hati jika menghadapi cairan kental dan aspal. Pemakaian busa tergantung kelarutan air dan senyawa kimia cair.

Senyawa kimia B3 dan limbah kimia B3 cair mudah terbakar lebih berat dari air. Jika terjadi kebakaran maka upaya memberi selimut bahan kimia tidak larut dalam air dan mengapung di atas permukaan bahan kimia terbakar. Pendinginan dengan semprotan air banyak membantu memadamkan kebakaran pada permukaan logam sehingga tidak terjadi kebakaran berulang. Bahan pemadam kebakaran yng digunakan adalah bahan kimia kering, CO2, dan gas inert jika bahan kimia cair mempunyai titik nyala lebih dari 37,8 0C.

Senyawa kimia cair eter lebih ringan dari air dan air mempunyai daya menyebarkan eter. Jika terjadi kebakaran eter sebaiknya digunakan bahan kimia kering, CO2, busa atau buih alkohol. Fungsi busa ini adalah menyelimuti eter sehingga terjadi kondisi anaerobik dan kebakaran akan padam. Fungsi eter digunakan dalam bidang kedokteran untuk anesthetic pasien jika pasien akan dioperasi. Eter sangat mudah meledak jika tercampur dengan oksigen atau nitrogen oksida. Uap eter sangat mudah meledak dan membentuk listrik statis.

Senyawa kimia piroforik sangat mudah menyala jika dibiarkan di udara terbuka pada suhu dan tekanan normal. Piroforik sangat reaktif dan mudah meledak dengan air.

Senyawa kimia gas asetilin, bahayanya ialah gas asetilin merupakan gas tidak stabil, sangat mudah terbakar dengan bahaya peledakan dan jika gas asetilin dibakar maka nyala asetilin mempunyai suhu sampai 3149 0C, gas asetilin yang disimpan dalam silinder baja perlu ditambah dengan bahan pengisi (filler) dan aseton untuk mencegah dekomposisi asetillin. Jika terjadi kebakaran gas asetilin, maka upaya pertama ialah dengan menutup aliran gas. Bahan pemadam kebakaran adalah bahan kimia kering diikuti dengan kabut yang dapat memadamkan kebakaran aseton.

Senyawa kimia amoniak berwujud gas dan cairan. Amoniak dalam cairan disebut amoniak hidroksida. Amoniak yang dipakai di rumah tangga dengan konsentrasi sangat rendah sekali. Amoniak sangat mudah terbakar dan toksik. Amoniak sangat mudah larut dalam air membentuk amoniak hidroksida. Gas amoniak dapat menyebar di udara dengan bau menusuk hidung sangat tajam. Amoniak cair sangat korosif dan jika kena kulit manusia, maka terjadi iritasi kulit.

Senyawa kimia toksik akrolein dari hasil pembakaran. Senyawa akrolein merupakan senyawa kimia cair yang tidak stabil. Akrolein cair mempunyai titik nyala -15 0C. gas akrolein dihasilkan dari pembakaran produk minyak bumi atau panas dari pengelasan. Gas akrolein sangat berbahaya dan membuat luka mata, hidung, tenggorokan dan kulit manusia. Akrolein sangat mudah terbakar dan larut dalam air. Oleh karena itu upaya pertama bagi pekerja di lapangan adalah harus memakai masker dan alat pelindung lainnya.

Senyawa kimia karbon dioksida (CO2), dihasilkan dari pembakaran sempurna senyawa yang mudah terbakar. Misal gas metan dibakar sempurna dengan oksigen. Senyawa karbon dioksida lebih berat dari udara, tidak mudah terbakar dan larut dalam air. Senyawa ini tidak berbau, tidak berwarna. Senyawa kimia karbon dioksida bersifat toksik.

Senyawa karbon monoksida (CO), dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna dari kayu bakar, kertas, dan bahan bakar fosil lainnya. Senyawa kimia gas karbon monoksida lebih ringan dari udara dan dapat terakumulasi dekat eternit rumah dan mudak terbakar, gas yang tidak berbau, tak berwarna, tidak larut dalam air, dan sangat toksik dan fatal meninggal dunia jika seseorang sampai menghirup gas CO. jika batu bara (C) dibakar dengan oksigen tidak sempurna maka akan terjadi gas CO.

Senyawa nitrogen oksida terdiri dari nitrogen oksida, nitrogen dioksida, nitrogen tetraoksida merupakan gas tidak mudah terbakar yang terbentuk jika nitrat dibakar atau jika selulosa nitrat dibakar atau jika dinamit dibakar dan bahan eksplosif lainnya. Tanda – tanda adanya senyawa kimia nitrogen ksida yaitu tiadanya cukup bau dan iritasi kulit manusia. Para pekerja di lapangan harus memakai baju pelindung dan masker . Gas ini dapat dideteksi karena warna cokelat sampai orange.

Senyawa kimia gas fosgen tidak mudah terbakar dan dibentuk oleh pemanasan senyawa kimia yang mengandung karbon dengan khlorin atau khlorinasi hydrokarbon. Senyawa kimia gas fosgen sangat beracun dan seseorang yang menghirup gas fosgen dapat langsung meninggal.

Senyawa kimia gas hidrogen sulfida (H2S) dihasilkan jika kain wool, rambut dengan bahan bakar fosil dibakar dengan pembakaran tidak sempurna. Senyawa ini berbau telur busuk dan amis, mudah terbakar dengan menghasilkan senyawa kimia SO2 yang sangat korosif, mudah meledak. Senyawa kimia gas H2S bereaksi dengan oksidator peroksida, nitrat dan perklorat dan bersifat eksotermis.

Blasting gelatin merupakan bahan peledak sangat kuat dengan massa jenis tinggi dan daya simpan cukup lama. Blasting gelatin terdiri dari campuran nitro glycerine dan nitro cotton mempunyai daya tahan terhadap air dan sangat bagus digunakan peledakan dalam air, peledakan batuan keras untuk pembuatan terowongan, dengan plat baja.




9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.